Showing posts with label PAUD-Dikmas. Show all posts
Showing posts with label PAUD-Dikmas. Show all posts
Thursday, March 5, 2020
Polsek Cidadap Berikan Pengenalan Rambu-rambu Lalu Lintas dengan Nyanyian
Polsek Cidadap menerima kunjungan dari PAUD BINTANG diterima oleh Kapolsek Cidadap AKP Septa Firmansyah.,S.H.,S.I.K
Kapolsek bersama Anggota dari Unit Binmas, Unit Lantas dan Humas dalam kegiatan Polisi Sahabat Anak ini, Polsek Cidadap memberikan pengenalan rambu rambu lalu lintas dengan pendekatan kepada anak dengan nyanyian-nyanyian yang di bawakan sama ibu polwan dari Polsek Cidadap,
Dalam sambutannya Kapolsek Cidadap menyambut dengan senang kedatangan anak-anak PAUD ke Polsek Cidadap.
"Kita merasa senang kedatangan anak-anak kesini, silakan bermain sambil belajar dan kalau mau nyoba naik mobil patroli silakan," ujar Kapolsek Cidadap dalam sambutanya. Dalam kegiata kali ini juga ada Mitra dari Polsek Cidadap Mobil Pintar ECO Bambu Cipaku yang memberikan parenting kepada anak-anak PAYD Bintang serta membagi-bagikan buku cerita. Kegiata ditutup dengan bembagian susu kotak dan makanan ringan kepada anak-anak PAUD Bintang.
Thursday, February 20, 2020
Mahasiswa PGPAUD UPI Bandung Gelar Ragam Kegiatan di Expo 2020
PGPAUD Expo O5 merupakan kegiatan rutinan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Pendidikan Indonesia Bandung yang mana di dalamnya terdapat lomba mahasiswa tingkat nasional, seminar, dan workshop serta kegiatan untuk anak yaitu jelajah. Untuk event tahun ini mengangkat tema "Pendidikan Karakter Anak Usia Dini di Era Revolusi Industri 4.0".
Latar belakangnya, pendidikan karakter di Era 4.0 akan berbeda dengan pendidikan karakter era sebelumnya. Di zaman ini, anak usia masih balita pun udah terbiasa menggunakan gawai. Seperti yang diungkapkan Ketua Pelaksana Sifa Nurjanah, "kegiatan ini mengangkat tema pendidikan karakter di era 4.0, sesuai dengan perkembangan zaman. Dimana, anak-anak usia dini harus diarahkan untuk bijak dalam menggunakan gawai. Ini sesuai dengan kenyataan di lapangan bahwa tak sedikit anak-anak usia dini yang kecanduan gawai. Peran orangtua dan pendidik sangatlah penting di zaman serba internet ini," ujar Sifa.
Dalam kegiatan ini pun selain mahasiswa PGPAUD, juga melibatkan seluruh mahasiswa dari kampus-kampus lainnya yang ada di Indonesia, guru PAUDdan umum, serta anak usia dini rentang usia 3-6 tahun.
Selain itu, kegiatan Expo ini juga diisi oleh lomba mahasiswa. tingkat nasional, workshop, hingga jelajah anak yang dilaksanakan di lingkungan kampus UPI dari tanggal 14-15 Februari 2020.
"Tujuan kegiatan ini, menyerukan pentingnya karakter unggul dalam diri anak sejak dini; memfasilitasi kegiatan bermain yang bermakna untuk anak; serta menstimulus aspek perkembangan anak, meningkatkan jiwa kreativitas serta kompetitif pada diri setiap mahasiswa," ungkap mahasiswi PGPAUD asal Kabupaten Bandung ini.
Thursday, January 23, 2020
Inilah Daftar Asesor Assessment Center Dinas Pendidikan Kota Bandung
Assessment Center Dinas Pendidikan Kota Bandung telah melaksanakan seleksi dan pelatihan untuk asesor yang akan mendukung realisasi Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 031 tahun 2019 tentang tata cara pengujian, pindah jalur pendidikan, dan pengakuan hasil belajar.
Berikut daftar lengkap 36 asesor assessment center :
Asesor Bidang Pindah Jalur Pendidikan Kesetaraan
1. Cucu Sukmana, M.Pd.
2. Asep Ramdani, S.S., M.Hum.
3. Agus Abdul Cholik, S.Ag.
4. Anita Yulia, S.Pd.
5. Paozan Zama'an, S.Pd. M.Pd.
6. Opie Noviyantie, S.Pd.
7. Elia Setiana S.Kom. M.T.
8. Drs. Martono, M.Pd.
9. Rida Fitriyani, S.Pd.
10. Dra. Riyantini, M.Pd.
11. Irwanto, A.Md., S.Pd.I
12. Dede Gumilang, S.Pd., M.M.Pd.
Asesor Bidang Layanan Pendidikan Inklusi
1. Bagus Syahbayu Kartawinata, S.Pd.
2. Adinda Nur Desiani, M.Pd.
3. R. Fachmy Faisal, M.Pd.
4. Dr. Dante Rigmalia, M.Pd.
5. Ria Lestari, M.Pd.
6. Mariani Suryadi
7. Witri Drani, S.Pd.
8. Triska Fauziah Resmiati M.Pd.
9. Nurvani Septiani, S.Pd.
10. Agus Muhidin, M.Pd.
11. Drs. M.E. Abdurahman, M.Pd.
12. Kokom Komariah
Asesor Bidang Kesiapan Belajar Anak Usia Dini
1. Dr. Hj. Arfiani Yulianti, MM.
2. Ani Rindiani, M.Pd.
3. Pathah Pajar Mubarok, M.Pd.
4. Siti Mahriyani M, S.Pd.
5. Dr. Eko Sulistiono, M.Pd.
6. Neng Fika Rumpaka Dewi, S.Pd.
7. Deti Nudiati, M,Pd.
8. Lisnawati, M.Pd.
9. Usep Saepudin, M.Pd.
10. Mimin Mintarsih, S.Pd.
11. Febriyanti, M.Pd.
12. Jene Siti Dwijantie, M.Pd.
Pelatihan Asesor Assesment Center Pendidikan Kota Bandung
Kamis, 23 Januari 2020, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Departemen dan Laboratorium Pendidikan Masyarakat (Penmas UPI), bersama dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung menyelenggarakan acara “Pelatihan dan Penguatan Asesor pada Kegiatan Assesment Center” pada hari Kamis, 23-30 Januari 2020 di Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan UPI.
Pertama digelar di Kampus UPI
Acara pelatihan ini merupakan yang pertama digelar di Kampus UPI hasil kolaborasi Departemen & Laboratoirum Penmas UPI dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Drs. Hikmat Ginanjar, M.Si., bersama Kepala Departemen Pendidikan Masyarakat FIP UPI Dr. Asep Saepudin, M.Pd. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Laboratorium Penmas FIP UPI, Dr. Jajat S. Ardiwinata, M.Pd, Kepala Bidang PAUD dan Dikmas, Drs. H. Abdul Ghaos, M.Pd, Kepala Seksi Kemitraan & Kelembagaan PP PAUD Dikmas, Dra. Pupung Puspitawati, Bendahara Lab Penmas UPI, Dr. Nike Kamarubiani, M.Pd dan Sekretaris Laboratorium Penmas UPI, Dadang Yunus Lutfiansyach, M.Pd.
Adapun narasumber pelatihan ini adalah pertama Dr. Elih Sudiapermana, M.Pd yang menyampaikan materi tentang Orientasi dan Urgensi Assesment Center dan pemateri kedua, Dr Asep Saepudin, M.Pd menyampaikan tentang Prosedur & Etika Kerja Asesor Assesment Center keduanya merupakan dosen dari Departemen Pendidikan Masyarakat.
Materi ketiga yakni tentang Teknis Pengisian Instrumen Assesment Center oleh 3 orang instruktur yang terbagi menjadi 3 kelompok yakni ; 1) Dr. Yuyus Suherman, M.Si (Pendidikan Inklusi) dari Departemen Pendidikan Khusus, 2) Dr. Viena Rusmiati Hasanah, S.IP, M.Pd (Pendidikan Kesetaraan) dari Pendidikan Masyarakat, 3) Purnomo, M.Pd (Pendidikan Anak Usia Dini).
Peserta asesor yang berasal dari berbagai kalangan
Kegiatan ini diikuti oleh 36 peserta asesor yang berasal dari berbagai kalangan yakni unsur akademisi dan praktisi pendidikan anak usia dini, pendidikan kesetaraan dan pendidikan inklusi.
Menurut Hikmat, “tujuan dari kegiatan ini adalah melatih kompetensi assessor dalam melakukan tugas dan fungsinya di Assessment Center Pendidikan di Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan berkolaborasi bersama Departemen dan Laboratorium Pendidikan Masyarakat UPI.
Lebih lanjut, Hikmat berharap kegiatan pelatihan ini menjadi kunci masuk untuk bisa terus berkolaborasi dalam menyukseskan program Dinas Pendidikan Kota Bandung, karena Dinas Pendidikan hanya melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis, untuk itu dibutuhkan peran akademisi untuk terus memberikan masukan dan gagasan dari hasil kajian akademik.”tuturnya
Asep Saepudin selaku Kepala Departemen Pendidikan Masyarakat menyambut baik mengenai harapan dan keinginan dari Kadisdik Kota Bandung untuk bersinergi dan kolaborasi dengan UPI, khususnya Departemen Pendidikan Masyarakat dalam mensukseskan program-program pendidikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat, salah satunya melalui Pelatihan Asesor Assesment Center Pendidikan” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Laboratorium Penmas UPI, Jajat S. Ardiwinata menyampaikan bahwa laboratorium siap untuk kolaborasi, sinergi dan fasilitasi dalam menyambut program kerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung, khususnya Assesment Center Pendidikan, apalagi Laboratorium mengusung tahun ini adalah tahun kolaborasi dengan berbagai instansi baik Pemerintah maupun swasta.”tuturnya.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, lahirnya program Assesment Center berangkat dari tuntutan dan kondisi masyarakat yang berkembang begitu pesat, apalagi era digital hari ini, selain itu permasalahan pendidikan mengenai Rerata Lama Sekolah (RLS) yang belum tercapai, masih adanya siswa yang putus sekolah (drop-out), masih adanya warga usia 7-18 dan 19 tahun ke atas yang memiliki latar belakang pengalaman pekerjaan, berorganisasi dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan namun tidak tamat sekolah/belum meiliki ijazah setingkat SD, SMP dan SMA, belum terlayaninya pendidikan untuk semua (education for all) yang berkeadilan bagi anak-anak berkebutuhan khusus sangat mendesak memerlukan strategi pemecahan yang tepat.
Pemecahan masalah
Pemecahan masalah tersebut terkait dengan:
a) harus diketemukan sumber masalah yang menjadi penghambat penuntasan pendidikan dasar; karena penetapan masalah tanpa kejelasan sumber masalah memungkinkan juga keliru;
b) pendekatan pemecahan harus sesuai dengan kesiapan semua pihak, di mana kewenangan teknis operasional ditangani oleh setiap tingkatan birokrasi secara hierarkis, dan
c) pemecahan masalah yang tepat mendasarkan pada data dan informasi yang tepat dan akurat.
Salah satu upaya stategis adalah dengan percepatan penuntasan pendidikan dasar bagi warga masyarakat secara berkeadilan dan efektif melalui berbagai model penuntasan pendidikan dasar terutama pada jalur pendidikan formal dan non formal, sehingga semua pengalaman dan kompetesi yang dimiliki warga masyarakat dapat diakomodir sebagai suatu kemampuan (kompetensi) yang legalitas formalnya dapat dipertanggungjawabkan.
Seiring dengan berkembangnya pengakuan terhadap suatu kompetensi tertentu yang tidak dilakukan melalui pendidikan formal (sekolah), KKNI memberikan peluang kepada semua warga masyarakat untuk secara arif mengakui bahwa suatu kompetensi tidak saja dapat dicapai melalui pendidikan formal (sekolah) akan tetapi dapat pula dilakukan melalui pendidikan masyarakat (informal dan nonformal).
Sebagai upaya menilai terhadap pengakuan pengalaman belajar lampau dan kompetensi seseorang adalah melalui Assessment Center pendidikan sebagai metode sekaligus wadah yang bertugas melakukan pengukuran atas kemampuan dan atau hasil belajar seseorang.
Melalui assessment center pendidikan inilah semua kelompok masyarakat yang memenuhi persyaratan (akademik dan pengalaman kecakapan hidup) dapat meningkatkan kualifikasi dan mengikuti jenjang pendidikan pada tahap selanjutnya. Untuk itu, keberadaan asesor Assessment Center sebagai ujung tombak dari Assesment Center ini mutlak diperlukan keberadaanya sebagai salah satu upaya untuk menilai dan menetapkan kompetensi sasaran dari program Assesment Center ini.
Tugas dan fungsi assesor
Tujuan dari penyelenggaraan Trainning Assesor adalah melatih kompetensi assessor dalam melakukan tugas dan fungsinya di Assessment Center Pendidikan di Dinas Pendidikan Kota Bandung. Adapun tugas dan fungsi Assesor adalah:
1. Mengakselerasi peningkatan Angka Rata-Rata Lama Sekolah sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2013 – 2018 yang menargetkan Angka Rata-Rata Lama Sekolah (ARLS) pada akhir tahun 2018 sebesar 12 tahun.
Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sebagai dampak dari meningkatnya Angka Rata-Rata Lama Sekolah (ARLS), sehingga akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi untuk mewujudkan daya saing global serta penguatan daya perekonomian.
2. Memberikan arah yang jelas bagi para petugas di lapangan (penilik, pamong belajar, dan Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Nonformal dan Informal) dalam menindaklanjuti permasalahan warga masyarakat yang membutuhkan layanan penilaian untuk : kesetaraan pendidikan, perkembangan anak usia dini dan anak berkebutuhan khusus.
3. Tersedianya wadah/lembaga (Assessment Center) yang dapat melakukan proses penilaian terhadap pembelajaran yang telah ditempuh oleh warga masyarakat dalam jalur pendidikan tertentu atau belajar mandiri dan dapat memberikan kecakapan hidup.
Monday, November 18, 2019
Kemah Literasi Jawa Barat 2019, Ruang Silaturahmi dan Militansi Pejuang Literasi
Di kaki Gunung Manglayang, Bandung Timur, para pegiat (baca: pejuang) literasi berkumpul dalam satu area di kawasan Bumi Perkemahan Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang. Mereka bersilaturahmi dan bertukar pengalaman serta gagasan dalam acara bernama "Kemah Literasi Jawa Barat 2019". Aneka kegiatan pun digelar dari hari Jumat sampai Minggu, 15 - 17 November 2019.
Selain ajang pertemuan para pejuang literasi, di kegiatan yang dihelat FTBM Jabar ini tersaji letupan-letupan gagasan juga berbagi pengalaman yang menarik untuk diangkat. Dari kegiatan diskusi, bedah buku, sampai sharing session di antara para peserta, mencuat pengalaman-pengalaman seru hingga perjuangan para pejuang literasi ini yang berjuang dari semangat memasyarakatkan peradaban membaca.
Walau hanya berlangsung selama tiga hari, gambaran terhadap dunia literasi di Jawa Barat khususnya, umumnya di Indonesia sedikit terbuka bahwa di balik perjuangan para pegiat literasi ini, masih banyak hal-hal yang harus diperjuangkan. Ini terbaca dari berbagi pengalaman beberapa peserta yang mengurus Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di daerahnya masing-masing. Aneka kegiatan acara yang digelar dari bedah buku, pengenalan literasi huruf braille, unjuk kabisa perwakilan, peserta, sampai pelatihan menulis aksara Sunda.
Sebagai informasi, peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan ini bukan hanya dari daerah-daerah di Jawa Barat, namun ada juga dari luar Jawa Barat dan luar Pulau Jawa. Para peserta pun datang dari berbagai kalangan, dari yang concern mengurus TBM, PNS, sastrawan, santri, wartawan, blogger, ibu rumah tangga, seniman, sampai anak-anak. Aspek semangat sosial dan dorongan nurani untuk memasyarakatkan membaca adalah ghirah luar biasa yang terpancar dari para peserta.
Literasi di era internet
Perjuangan literasi di berbagai daerah secara umum, berhadapan dengan berbagai masalah dari tergerusnya budaya membaca di masyarakat, hantaman teknologi informasi, sampai kurangnya dukungan dari pihak terkait. Namun, ini bukan ajang keluh kesah, justru mereka secara dengan semangat kolaborasi mencari cara-cara untuk menghadapinya sekaligus tetap mempertahankan semangat memajukan peradaban membaca di masyarakat.
Salah satu pembicara, Maman Suherman, yang dikenal sebagai yang dikenal sebagai penulis, pembicara, dan jurnalis ini menyoroti lemahnya budaya literasi di era internet. Salah satu degradasi budaya baca ini dengan menjamurnya budaya hanya baca judul dan lemah mencari referensi untuk uji validitas konten yang tersebar.
Tak heran jika hate speech, hoax, dan mudah percayanya pada suatu informasi yang viral karena literasi masyarakat yang baru sampai pada tingkatan membaca, belum kepada memahami, menganalisis juga memverifikasinya. Namun Maman optimistis, salah satunya dengan event Kemah Literasi seperti di Kiarapayung ini, membuktikan bahwa perjuangan literasi tidak akan mati, malah tambah kuat.
Kampanye literasi lewat lagu
Yang menarik, hadirnya penyanyi balada Ferry Curtis di malam api unggun, selain menghadirkan hiburan juga renungan lewat lagu-lagu yang ia nyanyikan. ntuk membangun kecerdasan masyarakat melalui musik, tidak banyak. Pemusik bernama asli R Ferry Anggawijaya ini menghadirkan lagu-lagu bertema literasi, seperti Ayo ke Pustaka, Ayo membaca dan Jangan Behenti Membaca. Bahkan, di salah satu sesi ia menyanyikan sebuah puisi karya penulis fiksi asal Banten, Gola Gong.
Ferry berharap dengan lagu-lagu bertema literasi yang diciptakannya, bisa membangkitkan semangat masyarakat untuk membaca, menulis dan mengaplikasikan bacaan tersebut. Ia pun menyoroti perlunya bangsa ini untuk terus memupuk dan mempertahankan persatuan. Hal ini ia buktikan dengan memanggil perwakilan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan bernyanyi bersama lewat lagu bertema kalimat "apa kabar" yang diucapkan dari berbagai bahasa daerah di Indonesia.
Sisi lain dari Kemah Literasi Jawa Barat 2019 ini, menghadirkan pengalaman-pengalaman seru dari beberapa peserta terkait suka duka mengurus taman bacaan di daerah masing-masing. Utamanya, jiwa sosial menjadi bagian tak terpisahkan. Bagaimana berjuang memasyarakatkan membaca dengan kondisi ekonomi seadanya; sulitnya mengajak masyarakat membaca; namun ada juga para pengelola TBM yang sudah bisa bersinergi dengan pihak lain, baik itu dukungan pemerintah daerah hingga program CSR perusahaan. **(Abah Amin)
--------------
Bagaimana serunya Kemah Literasi Jawa Barat 2019? Silakan lihat dokumentasi foto dan video di bawah ini:
- Dokumentasi foto LIHAT DI SINI
- Dokumentasi video TONTON DI SINI
Friday, November 15, 2019
Resmi Dibuka, 200 Lebih Peserta Mengikuti Kemah Literasi Jawa Barat 2019
Kegiatan Kemah Literasi Jawa Barat 2019 yang dihelat Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Jawa Barat resmi dibuka oleh Ketua FTBM Jawa Barat Opik di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang, pkl. 14.30, Jumat (15/11/2019).
Dalam sambutannya, Opik menyebutkan bahwa acara tersebut dipersiapkan secara maraton selama hampir dua bulan penuh. Kegiatan ini juga merupakan hasil salah satu rekomendasi Kopdar Pegiat Literasi Jawa Barat pada tahun 2017, yang salah satu butirnya menyebutkan akan secara berkala akan mengadakan semacam jambore atau temu pegiat literasi dalam lingkup Jawa Barat sekaligus nasional.
Hanya saja, lanjut Opik, kegiatan tahun 2017 maupun 2019 sekarang berupa gerakan. Salah satu pembedanya, untuk penyelenggaraan kali ini, panitia mendapat bantuan dari Direktorat Jenderal PAUD DIKMAS Kemendikbud RI dan Pemerintah Kabupaten Sumedang, serta beberapa pihak lainnya.
Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk menyinergikan kegiatan-kegiatan literasi yang ada. Karena dirasa kalau berjalan sendiri-sendiri seakan terasa terpisah-pisah, fragmentasi, dan segmented, sehingga bisa menyebabkan gerakan literasi kita tidak akan maju-maju. Selain itu, kegiatan ini bisa dijadikan sebagai ruang untuk dapat berbagi ide dan tukar pengalaman dan menambah pengetahuan baru bagi para pegiat literasi, dari para narasumber yang sengaja diundang pada acara ini.
Acara Kemah Literasi Jawa Barat 2019 secara simbolik dibuka dengan menabuh kohkol (kentongan) secara bersama-sama dengan ketua-ketua FTBM kabupaten/kota di Jawa Barat, salah seorang kepala seksi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, perwakilan dari Balai Bahasa Jawa Barat, dan perwakilan peserta dari luar Jawa Barat, seperti dari Jambi, Maluku, dan Jawa Timur.
Selain kentongan, sebagai simbol gerakan juga, para peserta menyerahkan beras dan makanan khas dari daerahnya masing-masing. Bahan makanan dan makanan khas yang pada gilirannya nanti akan dinikmati seluruh peserta kegiatan ini merupakan simbol dari kolaborasi, sebagai salah satu kecakapan yang diisyaratkan dan disyaratkan pada abad ke-21 ini. (AK01)
Subscribe to:
Posts (Atom)





